Rabu, 26 Januari 2011

Oprah, Presenter Terkaya Yang Lahir Dari Lingkungan Miskin

Oprah Winfrey lahir di Mississisipi dari seorang Ibu yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga dan Ayahnya mantan serdadu yang kemudian menjadi tukang cukur. Karena keduanya berpisah, Oprah diasuh oleh neneknya di lingkungan yang kumuh dan sangat miskin.

Pada usia 9 tahun, Oprah mengalami pelecehan seksual, dia diperkosa oleh saudara sepupu ibunya beserta teman-temannya dan terjadi berulang kali. Di usia 13 tahun Oprah harus menerima kenyataan hamil dan melahirkan, namun bayinya meninggal dua minggu setelah dilahirkan.

Setelah kejadian itu, Oprah lari ke rumah ayahnya. Ayahnya kemudian mendidiknya dengan sangat keras dan displin tinggi. Dia diwajibkan membaca buku dan membuat ringkasannya setiap pekan. Walaupun tertekan berat, kelak disadari bahwa didikan keras inilah yang menjadikannya sebagai wanita yang tegar, percaya diri dan berdisplin tinggi. “Membaca adalah gerai untuk mengenal dunia” katanya dalam suatu wawancaranya.
Oprah, yang berasal dari latar belakang status sosial rendah dan pernah mengalami kejadian yang begitu kelam dalam hidupnya, tidak pernah meratapi dan menyalahkan kejadian tersebut sebagai suatu hambatan untuk berputus asa. Semua yang dia alami tidak membuatnya merasa sebagai korban masa lalunya. Sebaliknya, dia terus berusaha mengubah hidupnnya ke arah yang lebih baik dengan mulai membangun kariernya sebaga penyiar radio lokal mulai di bangku SMA.

Kemudian di usia 19 tahun, Oprah mulai meniti karier di dunia pertelevisian. Dia menjadi wanita kulit hitam pertama dan termuda sebagai pembaca berita stasiun TV lokal tersebut.

Oprah lantas memulai debut talkshow di televisi dalam acara People Are Talking. Kemudian dia terus berusaha mengembangkan karier takshow-nya dengan memutuskan pindah ke Chicago untuk memandu acara The Oprah Winfrey Show. Ternyata usahanya berbuah manis, The Oprah Winfrey Show menduduki karier sebagai ratu talkshow yang ditonton 30 juta pemirsa setiap minggu di Amerika Serikat dan telah mengudara di 135 negara.

Majalah Forbes mencata kekayaan bersih Oprah di tahun 2008 sebesar US $2,5 miliar. Dia merupakan satu-satunya miliuner kulit hitam di tahun 2004, 2005 dan 2006 dan menjadi miliuner wanita kulit hitam pertama dalam sejarah dunia. Menurut Forbes, Oprah memiliki kekayaan sekitar lebih dari US $1,5 miliar pada bulan September 2006 yang mengalahkan ketua Eksekutif Ebay, Meg Whitman sebagai wanita terkaya di Amerika.

Pada Juli 2007, dilaporkan bahwa Oprah menjadi entertainer TV termahal di AS selama beberpa tahun. Dia menghasilkan sekitar US $260 juta selama setahun. Dan juga oleh majalah Forbes, Oprah di nibatkan sebagai The Most Powerful Celebrity 2008.
Bermodal keberanian “Menjadi Diri Sendiri”, Oprah menjadi presenter paling populer di Amerika dan menjadi wanita selebritis terkaya versi majalah Forbes, dengan kekayaan lebih dari US $ 1 Milyar. Copy acara “The Oprah Winfrey Show” telah diputar di hampir seluruh penjuru bumi ini.(fn/lb/em) www.suaramedia.com
foto : assetshare.blogspot.com

Selasa, 04 Januari 2011

FAKTOR-FAKTOR KEPUASAN PELANGGAN & LOYALITAS

Kepuasan dan loyalitas konsumen merupakan harapan yang ingin dicapai baik oleh konsumen amupun oleh produsen. Namun tidaklah mudah mewujudkannya karena banyaknya faktor yang ikut mempengaruhinya. Nah pada kali ini akan disampaikan sebuah hasil penelitian berupa jurnal yang membahas kepuasan konsumen dengan judul, “Faktor-Faktor Kepuasan Pelanggan dan Loyalitas Pelanggan: Studi Kasus pada CV. Sarana Media Advertising Surabaya.”

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana kepuasan pelanggan mempunyai pengaruh signifikan terhadap loyalitas pelanggan Iklan Jitu surat kabar Jawa Pos pada CV.Sarana Media Advertiseng dan variabel mana yang memberikan kontribusi terbesar pengaruhnya terhadap loyalitas pelanggan. Dalam penelitian ini mengunakan empat variabel untuk mewakili keppuasan pelanggan yang meliputi : reliability,response to and remedy of problems, sales experience dan convenience of acquisition. Dari hasil perhitungan diketahui bahwa sales experience memberikan kontribusi terbesar terhadap loyalitas pelanggan.
 
Sumber : Artikel Marketing

PENGERTIAN SEGMENTASI PASAR

Bagi suatu perusahaan tidaklah mudah untuk memuaskan semua orang. Jumlah konsumen yang begitu banyak, berpencar dan beraneka-ragam tuntutannya membuat perusahaan harus selektif dalam menawarkan produk atau jasanya kepada kelompok-kelompok konsumen yang sekiranya dapat memuaskan kebutuhan mereka. Untuk itu dibutuhkan segmentasi pasar.

Segmentasi pasar adalah proses pembagian pasar keseluruhan menjadi kelompok-kelompok pasar yang terdiri dari orang-orang yang secara relatif memiliki kebutuhan produk yang serupa. Maksudnya adalah untuk merancang suatu bauran pemasaran (atau lebih) yang secara tepat sesuai dengan kebutuhan para individu dalam segmen (atau segmen-segmen) pasar yang dipilih. Pengertian lainnya adalah proses membagi pasar keseluruhan suatu produk dan jasa yang bersifat heterogen ke dalam beberapa segmen, di mana masing-masing segmennya cenderung bersifat homogen dalam segala aspek.

Sumber : Artikel Marketing
foto : blog.the-marketeers.com

2 PENDEKATAN UTAMA SEGMENTASI PASAR

Untuk membangun strategi segmentasi langkah awal yang dilakukan adalah menentukan pendekatan segmentasi yang sesuai dengan segmen yang ada di pasar. Umumnya ada 2 pendekatan utama segmentasi yaitu pendekatan a-priori dan pendekatan post-hoc.

Pendekatan A-priori adalah pendekatan yang dilakukan sebelum suatu penelitian dilakukan, dimana peneliti sudah mengkotak-kotak pasar berdasarkan ciri-ciri seperti yaitu geographic, demographic ,psichological , psichographic (life style), sociocultural,use related segmentation, use situation segmentation, benefit, hybrid segmentation.

Pendekatan post-hoc adalah pendekatan yang tidak mengkotak-kotak pasar sebelum data dikumpulkan dan dianalisis. Segmen dibuat setelah data dikumpulkan dan dianalisis sesuai dengan atribut-atribut yang dianggap penting oleh peneliti. Jadi pendekatan post-hoc adalah pendekatan yang berorientasi pada riset dan dikembangkan untuk produk-produk spesifik pada suatu jangkauan waktu tertentu. Dengan demikian kekuatannya sangat bergantung pada pengetahuan pemasar terhadap produk dan pasar yang ditekuninya. Pengetahuan inilah yang akan membimbing pemasar menentukan atribut-atribut yang layak digunakan sebagai dasar analisis segmentasi yang dilakukan. Pengetahuan ini menentukan kepekaan pemasar dalam mengamati pasar.

Sumber : Artikel Marketing
foto : female.kompas.com


PENGERTIAN AUGMENTED PRODUCT

Dengan menyampaikan waktu tempuh yang lebih lama, pramugari tersebut sebenarnya ingin mengatur ekspektasi dari para penumpang. Kalau Anda diinformasikan bahwa waktu tempuh adalah dua jam, sementara dalam waktu satu jam lima puluh menit sudah sampai, Anda pastilah merasa puas. Tapi bayangkan jika Anda ternyata baru dua setengah jam sampai, sudah pasti Anda merasa tidak puas.

Marketer yang baik akan selalu memperhatikan ekspektasi (harapan) pelanggan. Ketika handphone baru muncul, konsumen cukup puas dengan adanya fitur SMS. Adanya SMS menggantikan produk pager sehingga konsumen tidak perlu membeli dua produk: handphone dan pager. Namun pada saat sekarang, konsumen sudah mengharapkan fitur lain yang seharusnya menjadi standar seperti true tone, pemutar musik, pen-download gambar dan lain-lain. Artinya, marketer harus menambah fitur-fitur yang diharapkan oleh pelanggan.

Sebenarnya dalam dunia pemasaran ada tingkatan yang lebih tinggi dari sekadar expected product yakni augmented product. Setiap produk yang telah memasuki tahap augmented product cenderung sudah melebihi apa yang diharapkan. Pada fase ini setiap produk diibaratkan sudah ditambahkan "bumbu-bumbu" atau "toping-toping" yang diluar harapan pelanggan. Setiap orang yang datang ke hotel mengharapkan di setiap kamar ada televisi, shower air panas dan bathtube. Namun ada tambahan-tambahan lain yang tidak diharapkan namun menyenangkan buat konsumen. Misalnya saja, tersedia video game di kamar atau layanan mini bar di kamar Anda ternyata gratis.

Tentu saja, augmented product lama kelamaan akan menjadi expected product . Dahulu tambahan fitur kamera masih menjadi optional, tapi kini sudah menjadi kewajiban di beberapa tipe handphone. Oleh karena itu, tantangan marketer adalah bagaimana menciptakan augmented product yang terus-menerus. Artinya kita harus terus menggali value-value baru apa menarik buat konsumen.

Harapan pelanggan memang harus dicari terlebih dahulu. Kalau produk Anda ternyata tidak bisa memenuhi harapan konsumen, jangan harap produk Anda akan diterima oleh konsumen. Kalau produk Anda sudah memenuhi harapan konsumen, itu berarti produk Anda sudah diterima oleh konsumen. Tantangannya cuma, berapa harga yang pantas untuk dibeli. Namun kalau produk Anda sudah melebihi harapan pelanggan, itu artinya konsumen sudah rela membayar lebih untuk produk Anda.

Jadi pertanyaannya, apakah Anda ingin bersaing dengan tingkatan harapan yang standar diinginkan oleh konsumen atau melebihi harapan? Kalau Anda menempuh opsi pertama, itu artinya Anda harus siap memasuki pertarungan harga. Tapi kalau Anda memilih opsi kedua, itu artinya Anda bisa menjual produk dengan harga yang di atas harga rata-rata.

Tantangannya tentu saja, mencari apa yang belum diharapkan pelanggan saat ini. Mencari tahu harapan pelanggan relatif lebih mudah. Namun mencari apa yang melebihi harapan pelanggan seringkali tidak mudah. Konsumen harus memiliki daya imajinasi yang kuat untuk menggambarkan apa yang melebihi harapannya. Kalau disurvei apa yang menjadi harapan konsumen terhadap sebuah jam, semuanya akan menjawab hal-hal yang memang sudah ada sekarang seperti tahan air, ada navigasi, tahan lama, dan lain-lain. Namun mungkin tidak ada konsumen yang mengharapkan jamnya dilengkapi dengan alat komunikasi handphone. Siapa konsumen yang punya daya imajinasi ke sana? Mungkin para pembaca dan penonton film Star Trek atau Star Wars yang punya pikiran kesana.

Tantangan kedua adalah besarnya biaya untuk menciptakan augmented product. Setiap tambahan value pasti akan menciptakan cost baru. Semakin banyak value yang di-deliver, semakin banyak cost yang harus dikeluarkan. Tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap harga jual. Keberanian Anda akan dilihat dari besarnya harga yang berani Anda tetapkan.

Tantangan lain adalah peniruan dari para pesaing. Cape-cape Anda membuat produk yang bersifat augmented, dalam waktu singkat apa yang Anda lakukan sudah ditiru oleh pesaing. Bahkan mereka mungkin membuat produk yang sudah lebih baik dari Anda. Marketer zaman sekarang memang hidup di era para follower. Mereka dengan cepat mengadopsi apa yang sudah dilakukan orang lain dan hal ini bisa merugikan Anda.

Makanya, apapun produk Anda, biasakan diri Anda untuk melakukan observasi (pengamatan). Observasi membantu Anda untuk terus menggali apa yang kira-kira melebihi ekspektasi pelanggan pada masa sekarang. Jalan-jalan ke pasar, kalau perlu jalan-jalan ke luar negeri, mengamati pesaing, memperhatikan perilaku konsumen ketika mengkonsumsi produk Anda, adalah beberapa contoh observasi. Semuanya ini bisa memberikan inspirasi baru bagi Anda.

Kedua, biasakan untuk membuat value innovation, yakni berinovasi dalam hal value yang ditawarkan. Jika Ada belum bisa melakukan inovasi dalam hal produk, berinovasi dululah dalam hal value. Tentu saja, value added yang Anda tawarkan harus lebih baik dan berbeda dengan kompetitor.


Oleh : PJ. Rahmat Susanta
Source : detikpublishing.com

FOTO : fashion-wanita-2010.blogspot.com

Sabtu, 01 Januari 2011

Keputusan Pembelian Tanpa Rencana

Keputusan pembelian tanpa rencana seringkali dilakukan konsumen setelah memasuki toko, supermarket, atau mall seperti diungkapkan seorang pakar marketing Easwar S. Iyer bahwa pembelian produk tanpa rencana dibuat konsumen pada saat di dalam toko dan bukan merupakan prioritas pada saat sebelum memasuki toko. Dengan kata lain impulse purchasing sebagai unplanned buying, pembelian yang dilakukan konsumen tanpa adanya rencana terlebih dahulu.

Henry Assael menambahkan, ketika konsumen berbelanja, konsumen sering membuat suatu keputusan pembelian di dalam toko daripada mengutamakan keputusan pembelian sebelum memasuki toko. Hal tersebut terjadi sebagai akibat pengaruh lingkungan dalam toko terutama faktor display, penataan rak, pengemasan, dan harga yang ditawarkan daripada pembelian terencana (preplanned purchase) yang merupakan pembelian dimana konsumen telah menetapkan atau mengetahui produk apa yang akan dibelinya sebelum memasuki sebuah toko.

Akibatnya, faktor-faktor rangsangan dalam toko berperan dalam mempengaruhi pengambilan keputusan pembelian yang tidak direncanakan sebelumnya. Dalam pembelian yang tidak direncanakan, konsumen cenderung bergantung pada informasi yang tersedia di dalam toko dan tidak terjadi pengolahan informasi secara mendalam.
 
Sumber : Artikel Marketing
foto : republika.co.id

TOKO ONLINE DORONG PENJUALAN OFFLINE

Ini memang angka-angka di Amerika Serikat. Namun saya menduga, hal yang sama juga terjadi di belahan dunia lain, termasuk Indonesia. Angka apa? Ini: Menurut riset terbaru Nielsen Online yang dilakukan Mei 2008 terhadap mereka yang membeli barang elektronik di sebuah toko, 80% diantaranya membeli setelah mengunjungi toko onlinenya. Jika dikuak lebih dalam lagi, 58% diantaranya membeli di toko yang situs webnya paling sering mereka kunjungi. Hasil riset ini secara gamblang menunjukkan bahwa toko online mendorong penjualan di toko nyata (brick and mortar store).



Hasil riset itu mestinya semakin membuka mata pemilik toko betapa pentingnya eksistensi toko dan retaieler di dunia maya. Selama ini masih banyak retailer tradisional yang enggan ke dunia maya. Alasannya sederhana: konsumen lebih senang belanja langsung di toko. Asumsi itu tidak salah. Apalagi, jika retailer dan toko berada dalam sebuah mall yang dilengkapi dengan banyak fasilitas hiburan, sehingga belanja bukan sekadar membeli barang tetapi juga untuk hiburan.


Namun, hasil riset di atas menunjukkan bahwa online bisa meningkatkan penjualan offline. Apalagi, hasil riset juga menunjukkan, bahwa mereka yang membeli barang eletronik di sebuah toko melakukan riset terlebih dulu. Riset paling sering dilakukan di dunia maya ketimbang di toko tempat mereka membeli produknya. Perbandingannya, 52% meriset terlebih dulu di online, dibanding 25% yang meriset di toko. Yang 52% itu datang ke toko sudah dengan bekal informasi yang memadai, sehingga tahu apa yang akan mereka beli.
Oleh karena itu, kelengkapan informasi produk menjadi syarat mutlak di sebuah toko online. Jika tidak, calon konsumen akan lari ke toko online lain yang menyediakan informasi yang lebih lengkap. Dan calon konsumen itu akan membeli langsung di toko online tersebut, atau langsung ke toko offlinenya.

Jadi, anda para pemiliki toko, kalau mau masuk ke dunia maya, jangan asal membuat toko online. Jangan asal ada di Internet. Tapi buatlah toko online yang memberikan informasi seakurat dan sebanyak mungkin untuk membantu konsumen memutuskan membeli barang di toko online maupun di toko offline anda.

Oleh : Nukman Luthfie, Virtual Consulting
foto : klik-kanan.com